Istilah thrifting berasal dari bahasa Inggris dari kata thrift. Merujuk situs Vocabulary, kata thrift atau thrifting sendirinya artinya hemat atau penghematan. Pengertian ini mengacu pada perilaku hemat terhadap uang yang dikeluarkan. Misalnya seperti berbelanja produk yang lebih murah.
ADVERTISEMENT
Pengertian tentang thrifting juga mengarah pada kegiatan berbelanja produk bekas, yang dinilai memiliki harga yang lebih murah, sehingga dianggap lebih hemat. Kegiatan thrifting seperti berbelanja produk bekas ini biasanya berupa produk lokal maupun impor.
Melansir situs The Daily Star, istilah thrifting tersebut kemudian menjadi tren di masyarakat global, tak terkecuali di Indonesia. Aktivitas thrifting biasa dilakukan dengan membeli produk bekas di toko khusus yang menjual produk bekas atau yang disebut thrift shop.
Ilustrasi Thrifting Baju Bekas | Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Apakah Thrifting Itu Melanggar Hukum?
Kegiatan thrifting yang marak di kalangan masyarakat Indonesia kini menjadi sorotan. Sebab aktivitas thrifting ini berkaitan dengan kegiatan berbelanja produk seperti pakaian bekas baik lokal maupun impor. Sementara pemerintah Indonesia telah melarang impor pakaian bekas.
Lantas apakah thrifting dilarang? Yang dilarang oleh pemerintah adalah impor baju bekas.
Larangan impor pakaian bekas tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2021, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 40 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2021 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor.
Melalui peraturan tersebut, Menteri Perdagangan mengatur barang yang dilarang untuk diimpor. Dalam Pasal 2 Ayat (3) dijelaskan bahwa pakaian bekas impor termasuk barang yang dilarang impor. "Barang Dilarang Impor berupa kantong bekas, karung bekas, dan pakaian bekas".
Baca juga:
Andre Rosiade: Setop Impor Pakaian Bekas, Dukung Produsen Pakaian Lokal!
Komentar Penggemar Thrifting
Penggemar thrifting tak setuju dengan larangan impor baju bekas ini. Para penggemar thrifting selama ini menikmati harga murah dengan kualitas barang branded saat thrifting.
"Sebetulnya kurang setuju ya, soalnya nanti jadi nggak bisa thrifting lagi. Pemerintah bilang kan harus dukung produsen dalam negeri, tapi model sama kualitas apa bisa sama? Kadang kan baju buatan industri dalam negeri meskipun baru harganya cukup mahal, nggak sama kualitasnya kayak baju branded di thrift," kata salah satu penggemar thrifting, Novian, saat berbincang, Jumat (17/3/2023).
Ada pula Alfons yang tidak setuju dengan larangan impor baju bekas. Menurutnya, jual beli baju bekas ini sebenarnya juga menguntungkan bagi warga.
"Sebetulnya nggak setuju ya, karena itu yang jual juga rakyat kecil di Pasar Senen kok. Harusnya kalau mau larang impor, ya UMKM baju dalam negeri kualitas dan harganya juga harus bersaing dulu. Kalau soal pajak ya bisa dipajakin aja harusnya," katanya.
Baca artikel detiknews, "Mengenal Apa Itu Thrifting di Tengah Ramai Larangan Impor Baju Bekas" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-6624983/mengenal-apa-itu-thrifting-di-tengah-ramai-larangan-impor-baju-bekas.
Thrifting, atau berbelanja barang-barang bekas, telah berkembang dari sekedar cara untuk menghemat uang menjadi sebuah gerakan sosial dan budaya yang berfokus pada keberlanjutan dan gaya hidup yang unik. Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, thrifting menjadi populer karena berbagai alasan, mulai dari kesadaran lingkungan hingga keinginan untuk memiliki barang-barang vintage yang unik. Artikel ini akan menggali lebih dalam tentang fenomena thrifting, manfaatnya, serta tantangan yang dihadapi.
Sejarah dan Perkembangan Thrifting
Thrifting, dalam bentuk dasarnya, telah ada selama manusia membutuhkan pakaian dan barang lainnya. Namun, konsep modern dari thrifting mulai populer di Amerika Serikat dan Eropa sekitar tahun 1970-an, saat krisis ekonomi dan kekhawatiran lingkungan mendorong orang-orang untuk mencari alternatif yang lebih murah dan lebih ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Di Indonesia, thrifting mulai dikenal luas beberapa tahun belakangan ini, terutama di kalangan generasi muda yang semakin sadar akan isu-isu lingkungan dan keberlanjutan.
Tips Thrifting
- Cara memilih barang berkualitas
- Tips negosiasi harga
- Hari terbaik untuk thrifting
Transformasi dan DIY
- Panduan langkah demi langkah untuk mengubah pakaian
- Ide-ide DIY menggunakan barang-barang thrift
Spot Thrifting
- Ulasan toko barang bekas di berbagai kota
- Rute thrifting terbaik untuk pengalaman maksimal
Gaya Hidup Berkelanjutan
- Diskusi tentang bagaimana thrifting membantu lingkungan
- Cara-cara untuk hidup lebih berkelanjutan dengan anggaran terbatas
Kisah Inspiratif
- Cerita dari penggemar thrifting
- Kisah sukses dari usaha kecil yang fokus pada produk-produk bekas
- IKLAN
Thrifting atau membeli baju bekas kini makin digandrungi. Selain harga lebih murah, kualitas barang yang didapat terkadang bisa sangat bagus.
Thrifting atau membeli baju bekas kini makin digandrungi. Harga lebih murah dengan kondisi pakaian yang masih layak pakai menjadi alasan banyak orang memilih thrift cloth. Apalagi ada kemungkinan mendapatkan merek kelas atas seperti Adidas, Nike, Zara, Levis, dan lainnya. Kegiatan thrifting ini juga didukung dengan semakin banyaknya pasar-pasar dan toko thrift cloth.
Sempat Dilarang
Thrifting sempat dilarang pada Agustus lalu. Alasannya, Thrifting bisa melanggar Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2022 tentang barang yang dilarang untuk diekspor dan impor. Impor baju bekas tak diizinkan karena berisiko terhadap kesehatan dan merusak industri dalam negeri.
Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan pun menegaskan, bahwa pemerintah tidak melarang bisnis baju bekas di dalam negeri, seperti thrifting. Hal yang dilarang adalah mendatangkan baju bekas dari luar negeri.
Alternatif Fashion
Selain ramah di kantong, thrifting juga bisa menjadi alternatif fashion yang ramah lingkungan dibandingkan Fast Fashion. Seperti diketahui, Fast Fashion memiliki dampak buruk pada proses pemanasan global karena limbah yang dihasilkan selama proses produksi dibuang ke sungai atau laut yang menyebabkan pencemaran lingkungan.
Kelebihan Thrift Cloth
- Mengimplementasikan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle)
- Mengurangi limbah pakaian
- Mendorong ekonomi sirkuler
- Bereksperimen dengan fashion
- Menemukan pakaian yang unik dan langka
- Kecil kemungkinan memiliki pakaian yang sama dengan orang lain
- Bermanfaat untuk berbagai kalangan
- Kepuasan terhadap fashion
- Memberikan potensi bisnis
Tips Thrifting
- Mengecek kelayakan produk
Tidak semua produk thrifting yang dijual memiliki kondisi layak pakai, ada juga beberapa barang yang memang diperuntukan untuk pajangan semata namun ada juga yang dijual tanpa proses pengecekan terlebih dahulu. Jadi penting bagi konsumen untuk mengecek secara menyeluruh kondisi barang yang akan dibeli.
- Riset tempat
Riset tempat juga penting untuk dilakukan karena beberapa tempat menjual barang thrifting dengan harga yang cukup mahal atau barang yang dijual kebanyakan berkualitas rendah.
maka dari itu penting melakukan riset terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berbelanja di tempat tersebut.
- Pastikan bahan produk
Thrift cloth umumnya berasal dari luar negeri sehingga ada beberapa bahan yang kurang cocok dipakai di iklim indonesia, ada beberapa juga yang mungkin memicu alergi seperti pakaian dengan bulu tertentu.

